Mochdy’s blog


Kadang Kita Butuh Penunjuk Jalan
Oktober 9, 2008, 8:47 am
Diarsipkan di bawah: Pemahaman

 

 

Alam

Alam

Kebanyakan orang menjalani hidup tanpa bisa melihat dan menyadari peluang-peluang luar biasa yang ada di sekitar mereka. Saya teringat akan kisah tetang seorang perempuan yang hidap pada awal abad ini. Bertahun-tahun ia menabung untuk impian datang ke tanah impian Amerika. akhirnya ia memang punya cukup uang untuk mendapatkan tiket naik kapal. Karena uangnya sangat mepet, ia nyaris tidak pernah keluar kabin kapal selama perjalalnan. Ia berfikir, agar bisa irit maka ia juga meransum makanan yang ia bawa sebelum naik kapal. Begitulah yang ia lakukan berhari-hari selama perjalanan di laut. Saat perjalanan tinggal sehari, ai ingin mengakhiri “tirakat” makan. Ia ingin mencicipi sajian makanan yang ada di dalam kapal. Maka, iapun keluar kabin untuk masuk ke ruang jamuan makan terakhir. Ia melihat cukup banyak makanan. lalu, dengan ragu ia bertanya pada awak kapal berapa harga makanan di situ. Ia mendapat jawaban, “Nyonya, apa kau tidak tahu? Semua makanan ini sudah termasuk dalam harga tiket kapal. Anda boleh memakannya berapa saja tanpa bayar. Gratis.”

 

Hidup kadang seperti itu. Tetapi, kita tentu tidak ingin menjalani hidup sampai akhir dan baru menyadari bahwa Anda bisa mendapatkan yang Anda inginkan jika seseorang baru saja menunjukkan jalan. Kita bisa menikmati kelimpahan apapun  yang alam tawarkan sama seperti upaya alam memberikan kesengsaraan. Tinggal kita yang memilih.

PS. Tanya pada yang sudah hidup didalamnya dan melakukannya. Banyak dari mereka yang suka membantu. Mereka hanya membutuhkan komitmen.



Sadar, masih punya ibu.
Agustus 1, 2008, 9:36 am
Diarsipkan di bawah: Kisah harian | Tag:

 

Ketika ibu saya berkunjung, Ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah  gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, Dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun Wanita,

 

Dan ibu saya mencoba gaun demi gaun Dan Mengembalikan semuanya. Seiring Hari yang berlalu, Saya mulai lelah Dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya pada toko terakhir yang kami kunjungi, Ibu Saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, Dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk Dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya Melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya.

 

Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya Berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sadari.

 

Setelah saya Mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya. perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi Kejadian tersebut terukir Dan tidak dapat terlupakan Dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran Saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut Dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.

 

Kedua Tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi Saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk Saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.

 

Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya … Dan yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini.

 

Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah Membuat saya dapat melihat dengan Mata baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.

 

Dunia ini memiliki Banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu Agung,

tetapi tak satu pun yang dapat menandingi.

Keindahan tangan Ibu…



Alam Seperti Menguji
Mei 31, 2008, 8:25 pm
Diarsipkan di bawah: Filsuf
Tidak ada yang tetap kecuali perubahanî. salah satu hukum alam semesta yang telah diciptakan oleh sang pencipta adalah perubahan.
Musim datang silih berganti, siang berganti malam, miskin menjadi kaya, gagal menjadi sukses, dan seterusnya. Tapi nampaknya kita terkadang melupakan hukum alam ini sehingga kita merasakan kekecewaan dan kesedihan yang seharusnya tidak perlu.
Hidup ini dinamis, segalanya berubah. itulah yang membuatnya indah dan begitu sulit diduga.Perubahan itu memaksa kita untuk bertindak.
Sungai yang berhenti mengalir akan menjadi busuk. Hal yang sama juga terjadi pada orang yang berhenti bergerak, baik secara fisik maupun mental. Orang yang bergerak dibidang yang saya sedang geluti pasti tahu hal ini. ìDiam terlalu lama, maka tamatlah riwayat anda ì.
Setiap perubahan selalu mendapat tantangan. Kita selalu mendapat tantangan. Kita selalu ditantang untuk membuktikan keseriusan kita, terutama pada saat -saat awal. Seorang pengusaha mengatakan bahwa ia sukses tepat sebelum ia memutuskan mengundurkan diri. ketika ia sudah begitu putus asa, tiba -tiba segalanya mendadak berjalan lancar. Suasana selalu gelap dan dingin sebelum fajar menyingsing.
Tetapi jika kita bertahan cukup lama maka kita akan memetik
hasilnya. Sebenarnya, seringkali alam seperti menguji keseriusan kita dalam mencapai suatu tujuan. Jika kita bertahan lebih lama sedikit saja, semua jalan tiba tiba terbuka bagi kita. Kita biasanya akan diuji dalam beberapa tahap sebelum kita mencapai sesuatu yang cukup bernilai.
Kesalahan yang dilakukan banyak orang adalah bekerja hanya demi hasil akhirnya saja dan bukan pada kenikmatan dalam mengerjakannya. Saya melihat mereka bekerja untuk liburan mereka. Bukan untuk kehidupan nyata mereka.
Sehingga jika tidak memperoleh yang diinginkan, mereka kecewa.
Apa yang saya lakukan memang bukanlah pekerjaan untuk hari ini.


Selalu Merasa Muda
Mei 25, 2008, 6:59 am
Diarsipkan di bawah: Filsuf | Tag:

Sebuah literatur tua mengatakan :

“kita harus terus merasa muda agar supaya kita terus menghijau dan terus bertumbuh. Daripada terus merasa tua dan kita menunggu untuk membusuk setelah itu mengeras”